Jumat, 30 Januari 2015

 #mahasiswa Well, selamat menjalankan aktifitas untuk semua pembaca artikel aku. kali ini aku terpancing untuk menulis sebuah cerita yang datang dari kampus aku dulu la. sebenarnya males aku nulisnya capek lek. hhe.

  Mahasiswa, mmhhh pastinya beda dengan siswa ya. ya perbedaan itu terletak di depan kata siswa yang terselip kata maha yang artinya besar, tingkat tinggi dari sebelumnya. Menjadi mahasiswa juga tidak lah sesulit dari artinya yang berarti tingkatan yang lebih tinggi dari siswa. Di indonesia sendiri setiap tahunnya memiliki kurang lebih 7 juta calon mahasiswa dari berbagai daerah di indonesia. WOW. apakah mereka siap ke jenjang yang lebih tinggi? siap tidak siap libas aja lek. hhe. 

  Unik dari mahasiswa yang lain, berbeda dari yang lain, menggali potensi, mencari jalan untuk ketahap selanjutnya, pemilihan antara dunia hitam atau putih ku rasa itulah mahasiswa. pintar pintar kau la ya lek. aku juga termasuk mahasiswa yang di bilang pintar ngk, yang dibilang mahasiswa bodoh juga ngk, yang dibilang bandal juga ngk, yang dibilang alim atau MAE (mahasiswa nje nje wae) juga ngk. biasa biasa saja aku ini kayak asbak club kebanyakan, BIASA aja. hahaha.

 Mahasiswa dituntut  memiliki karakteristik kritis, kreatif, konstruktif. dimana kritis mahasiswa itu di bagi menjadi 3 bagian pola pemikiran yaitu ontologi (tentang apa), epistimologi (tentang bagaimana), aksiologi (tentang untuk apa). dilihat dari ketiga pola pemikiran tersebut, sering sekali kita terganjal di perkuliahaan adalah pola pemikiran epistimologi (tentang bagaimana). epistimologi sendiri mempunyai arti kata yang luas tentang bagaimana pesawat bisa terbang, bagaimana einsten mengeluarkan rumus e=mc kuadrat, bagaimana sebuah PC dapat bekerja dan meringankan beban kerja manusia. kita dituntut untuk peka terhadap sekitar. diluar semua kita ditutun untuk peka dan lebih konservatif, penghambat itu tentu ada. Kampus merupakan wadah dimana kita dituntut untuk kritis, kreatif, konstruktif. tapi, tidak semua kampus bisa membina mahasiswa seperti ini. salah satunya kampus yang katanya ternama juga tidak bisa membina mahasiswanya.

  Penggerak kampus dan aktor utamanya adalah mahasiswa dan dosen. peran kedua ini sangatlah penentu bagi kebaikan dan akreditas kampus itu sendiri. sering sekali dosen memperlakukan mahasiswa bukan seperti mahasiswa tapi lebih memperlakukan seperti siswa. tapi juga terkadang kita kita ini di pandang ama dosen masih memiliki sifat seperti siswa bukan mahasiswa. hahahaha. biasanya ini untuk mahasiswa tingkat pertama dan kedua. Saya punya pengalaman mengenai jawaban dan hak saya untuk mendapatkan nilai lebih tapi hal hasil nilai tetap tidak berubah walaupun saya punya bukti bukti yang kuat dengan alasan si dosen "sudah terlanjur masuk ke jurusan". terus yang salah? mahasiswa dong. ingat, kita di tuntut untuk TUNDUK, MAE. seperti pasal kampus antara dosen dengan mahasiswa. pasal terdiri dari 2 pasal yaitu :

1. Pasal 1 ayat 1 dosen tidak pernah salah
2. Pasal 2 ayat 1 jika dosen salah, balik lagi ke pasal 1.

ya begitulah -_-. hahahha.


  Balik lagi ke masalah epistimologi, saya punya kenalan seorang teman di salah satu perguruan tinggi swasta di bandung tentang cara menyampaikan sesuatu "bagaimana itu bisa menjadi sebuah jawaban" ke dosennya. Kelihatan si dosen tidak senang dengan argumentasi mahasiswa tersebut dimana argumentasi tersebut benar. mungkin di pikiran teman saya dia takut si dosen memberikan sebuah jawaban yang salah ke mahasiswa. tapi ya itu tadi, dosen itu tetap tidak setuju dengan argumen mahasiswa tersebut. ya ini bisa jadi si dosen malu ya dengan gelarnya S1, S2, S3, S lilin nya dimana jam terbang dia lebih tinggi, lebih senior dan mahasiswa duluan dimana jawabannya di luruskan oleh calon sarjana. bisa jadi demikian. unik memang.
  Saya juga punya cerita saya. dimana ketika itu teman saya sedang skripsi atau sedang tugas akhir. jam jam dimana menunggu kepastian bisa bimbingan atau tidak tiba tiba di depan ruang dosen keluar seorang dosen dan mahasiswa (mungkin mahasiswa ini lagi bimbingan dengan beliau) dan dosen tiba tiba dengan nada tinggi memberitaukan kepada mahasiswa itu dengan kalimat "SAYA LEBIH TAU DARI PADA IBU X, SAYA LEBI PINTAR" dan si mahasiswa itu dengan muka kaget. Astaghirullah. dosen kok begini ya. sesama dosen aja dia saling menjatuhkan. (dengar dengar si dosen tersebut sudah memiliki jabatan penting di jurusannya. mungkin dia terpilih karena kepintarannya yang lebih dari si ibu x. attitude? bagaimana).
  Percaya tidak kalian mahasiswa di tuntut untuk tetap tunduk? percaya deh ama aku. karena gambar di bawah ini terlontar sendiri dari tangan seorang dosen. iya DOSEN. kita dituntut untuk pasrah dan menjadi mahasiswa MAE. jadi bagaimana dengan kritis, kreatif dan konstrukti? ada, beda kampus, beda cara didik. hhe. pilih kampus sesuai dengan keyakinan. 





 Semoga kampus kelen tidak begini ya bro. semoga dosen kalian pembimbing yang baik untuk jalan kalian supaya ke 3 karakteristik itu bisa kita dapatkan. gunanya? untuk kebaikan kalian dan semua. 

  oh iya, ane bukan kumpulan mahasiswa yang sakit hati kok karena bikin artikel ini. hhe. cuma intermezo ringan sore hari. :D





0 komentar:

Posting Komentar

Bebas, Sopan, No Sara. :)